Paris — Industri fashion global kembali berada di bawah sorotan. Model bisnis fast fashion yang mengandalkan produksi cepat dan harga murah dinilai memperparah krisis lingkungan.
Data sejumlah lembaga menunjukkan limbah tekstil meningkat signifikan, sementara transparansi rantai pasok masih terbatas. Isu eksploitasi tenaga kerja di negara berkembang juga terus mencuat.
Tekanan terhadap merek-merek besar meningkat. Aktivis menuntut perubahan mendasar, bukan sekadar kampanye keberlanjutan. “Tanpa perubahan sistemik, komitmen hijau hanya menjadi strategi pemasaran,” ujar seorang peneliti lingkungan.
Sejumlah brand mulai mengadopsi konsep sustainable fashion. Namun, langkah ini dinilai belum cukup untuk mengimbangi dampak industri yang sudah terlanjur masif.




