Di tengah luasnya samudera perjuangan, sebuah kapal bernama PKN terus bergerak menuju pelabuhan cita-cita.
Di atas kapal itu berdiri seorang Nahkoda, yang memegang kemudi, menjaga haluan dan bertanggung jawab memastikan seluruh awak kapal tetap bergerak menuju tujuan.
Dialah Ketua Pimpinan Daerah Partai Kebangkitan Nusantara Provinsi Jambi Mirzal Muharroma,SH.
Namun seorang Nahkoda tidak pernah merasa dirinya mampu menghadapi seluruh lautan seorang diri.
Sebab laut memiliki arus yang berubah, angin yang tidak selalu bersahabat, gelombang yang kadang meninggi dan badai yang dapat datang tanpa tanda.
Karena itu, kapal yang besar membutuhkan orang-orang yang memiliki pengalaman membaca laut.
Dan kini, hadir seorang Laksamana.
Bukan untuk mengambil alih kemudi dari Nahkoda, tetapi untuk memberikan pandangan dari pengalaman panjangnya mengarungi samudera.
Ia membantu membaca arah angin, mengenali perubahan arus, memperkirakan datangnya badai, serta memberikan pertimbangan tentang jalur terbaik yang harus ditempuh.
Itulah makna hadirnya Laksma TNI (P) Jaya Darmawan, S.H., M.Tr.Opsla. sebagai Dewan Pakar PKN.
Sementara Nahkoda tetap memegang kemudi, Dewan Pakar memberikan pandangan agar setiap keputusan perjalanan dapat dilakukan dengan lebih matang, terukur dan strategis.
Harapannya, dengan bersatunya keteguhan Nahkoda dan pengalaman seorang Laksamana, kapal PKN tidak hanya mampu berlayar di laut yang tenang, tetapi juga mampu melewati gelombang dan badai yang menghadang.
Karena tujuan kita bukan sekadar sampai di pelabuhan.
Tujuan kita adalah sampai dengan selamat, membawa seluruh awak kapal bersama-sama, dan tiba dengan membawa manfaat bagi masyarakat.
Saya sebagai Nahkoda tidak menjanjikan bahwa perjalanan ini akan selalu tenang. Tetapi saya berjanji untuk menjaga kemudi, menjaga haluan, dan terus membawa kapal PKN menuju tujuan perjuangan.
Dan bersama Dewan Pakar, para pengurus serta seluruh kader, kita akan memastikan:
Kapal PKN tidak kehilangan arah, Nahkodanya tidak kehilangan keberanian, dan perjuangannya tidak kehilangan tujuan.
Selamat datang, Sang Laksamana.
Mari kita baca laut bersama, kita jaga haluan bersama, dan kita berlayar menuju pelabuhan perjuangan yang kita cita-citakan.





